Sejarah Uang
Sejarah uang menurut Jack Wheatherford dalam buku “Sejarah Uang” bermula ketika bangsa Lydia membuat koin pertama (640-630 SM) dari elektrum, campuran emas dan perak yang terjadi secara alamiah. Mereka memotong-motong elektrum menjadi bulatan-bulatan oval yang beberapa kali lebih tebal dari pada koin modern, atau kira-kira seukuran ruas akhir ibu jari orang dewasa. Guna menjamin keotentikannya, raja memerintahkan tiap koin dicap dengan emblem kepala singa. Pengecapan itu juga berfungsi meratakan bulatan, mengawali transisi dari koin bungkal oval menjadi sekeping koin datar melingkar.
Hal ini memudahkan orang-orang pada zaman itu melakukan ‘jual beli’ yang sebelumnya menggunakan ‘uang’ komoditas. Uang komoditas yang dimaksud adalah barang-barang yang dianggap memiliki nilai tinggi bagi suatu bangsa. Masing-masing bangsa menggunakan uang komoditas yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sebagai uang komoditas, bangsa India menggunakan buah almond, bangsa Guatemala menggunakan jagung, bangsa kepulauan Nobar menggunakan kelapa, bangsa-bangsa di Asia Tenggara menggunakan beras, bangsa Norwegia menggunakan mentega, dan bangsa Cina menggunakan garam. Karena ketidakpraktisan dan kendala dalam menentukan jumlah yang sebanding dengan barang-barang yang mereka inginkan, sistem jual beli dengan uang komoditas (barter, red) ini kemudian ditinggalkan.
Pada perkembangan selanjutnya, emas digunakan sebagai bahan dasar pembuat koin karena banyak bangsa mengakui nilai yang terkandung di dalamnya. Hal ini dikarenakan bentuknya yang tidak akan lekang termakan waktu ataupun cuaca. Emas murni akan tetap murni. Tidak seperti tembaga yang berubah warna menjadi hijau, besi yang berkarat, dan perak yang memudar.
Numismatika
Mungkin Anda baru mendengar atau membaca istilah ini. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, numismatika adalah sebuah telaah pengumpulan mata uang atau tanda jasa, medali, dan sebagainya. Khusus dalam hal ini, numismatika dapat dikatagorikan sebagai sebuah hobi mengumpulkan mata uang kuno. Sama seperti halnya filateli (hobi mengumpulkan perangko), semakin tua dan langka koleksi yang dimiliki, akan semakin bernilai di mata penggemarnya.
Di samping usia uang-uang kuno tersebut, keadaan fisik pun mempengaruhi nilai uang. Berdasarkan keadaan fisik ini, para kolektor membagi koleksi uang kuno mereka dalam beberapa kategori. Kategori tersebut adalah sebagai berikut.
1. Proof (PR). Uang dalam kategori ini memiliki bentuk yang sempurna (mirror-like surface). Hal ini dikarenakan uang-uang ini memang dicetak untuk kepentingan koleksi, perkenalan, serta untuk memperingati momen-momen tertentu.
2. Uncirculated (UNC). Keadaan fisik uang dalam kategori ini tidak memiliki cacat sedikit pun karena tidak beredar atau uncirculated. Di Eropa, khususnya Belanda dan Perancis, kondisi uang logam seperti ini disebut FDC atau Fleur de Coin.
3. Extremly Fine (ef atau xf). Kondisi uang dalam kategori ini walau masih bagus namun gambar dalam koin tersebut tidak begitu jelas. Secara keseluruhan kira-kira kondisi uang tersebut mendekati 90-95% dari uang aslinya. Berturut berdasarkan persen kualitas uang, numismatika menyebut beberapa tingkatan lagi di bawahnya yaitu Very Fine (vf), Fine (f), Very Good (vg) dan terakhir Good (g). Muslik
Sumber: Majalah Percikan Iman
Ditulis dalam Artikel
Komentar Terakhir