Dari Sini Bermula….

Having Fun + Having Fund ala Numismatis

Selain jadi hobi, koleksi uang langka juga bisa jadi ladang investasi

Mengoleksi uang langka atau benda numismatic lainnya bukan hanya jadi hobi menyenangkan, tapi juga bisa

menjadi lading investasi yang amat menguntungkan. Yuk, simak bagaimana asyiknya mengoleksi dan mengeduk

untung dari sini.

Mesti Sinaga, Rika Theo, Markus Sumartomdjon

Rasanya persis orang mau ketemu calon pacar. Gairah membuncah, tapi sekaligus bercampur cemas. Sensasi itulah yang

dirasakan pecinta uang kuno Indonesia beberapa hari terakhir.

Ya, mereka berdebar menunggu hajatan Java Auction III yang akan diselenggarakan akhir pekan ini, 4 Agustus 2007 di Hotel

Redtop, Jakarta. Maklum, di lelang akbar tahunan ini mereka bakal bisa membawa pulang uang kertas dan koin langka yang

sudah sekian lama mereka idam-idamkan.

Dus, sekaligus di situ mereka bisa menjual koleksinya dengan harga tinggi. Apalagi, “Kolektor dari Singapura, Jerman dan

negara lain akan datang,” ujar Puji Harsono, Wakil Ketua Asosiasi Numismatika (ANI) Jawa Barat. Puji, yang juga panitia

lelang, menjelaskan Java Auction III akan melelang 1.620 item benda numismatika, alias alat tukar. Ini mencakup uang

kertas dan logam, wesel bayar, token, obligasi, dan sebagainya. “Patokan harga dasar lelangnya dari Rp 25.000 sampai Rp

100 juta sebiji,” kata dia.

Diukur, ditimbang lalu dicium

Mengoleksi duit dan alat pembayaran lainnya memang sudah lama dilakoni orang sedunia, termasuk di Indonesia. “Kolektor

yang masuk asosiasi tak banyak. Yang lebih banyak justru kolektor besar yang tak mau jadi anggota,” ujar Shofwan, Ketua

ANI DKI Jakarta yang juga seorang kolektor.

Mau bergabung asosiasi atau tidak, yang jelas mereka punya alasan serupa menekuni kegemaran ini. “Mengoleksi uang itu

sangat mengasyikkan,” ujar Brian Yaputra, pendiri dan pemilik Eztu Glass, perusahaan kaca patri yang sudah mendunia.

“Saya senang melihat gambar-gambar yang menarik dan warnanya yang indah,” imbuh Brian, yang memajang ratusan

lembar duit koleksi di kaca meja kerjanya.

Selain menyenangkan dipandang, “Mengoleksi uang juga mendatangkan kepuasan batin, karena bisa memiliki sesuatu yang

langka dan tak dimiliki orang lain,” timpal Henry Wijaya, kolektor anggota ANI Jakarta. Asal tahu saja, koleksi duit Henry yang

Direktur PT Japfaa Comfeed itu kini mencapai ratusan ribu lembar.

Demi kesenangan dan kepuasan batin tadi, para kolektor yang rata-rata adalah pengusaha atau eksekutif itu tak

segan-segan berburu barang koleksi hingga ke luar negeri. “Setiap kali ada urusan ke luar negeri, pasti saya sempatkan

mencari koleksi uang,” ujar Brian yang banyak mengoleksi uang kertas asing ini.

Sebagian kolektor lagi asyikmenguber uang koleksi di internet. Salah satu situs lelang uang favorit mereka adalah: www.

ebay.com. “Saya hampir tiap hari main ke situs itu,” ujar Untoro atau lebih dikenal dengan nama Uno, kontraktor dan pelukis

yang sudah 9 tahun jadi numismatis.

Tak hanya sibuk berburu, para pengusaha dan eksekutif yang sebetulnya sangat sibuk itu rela pula menghabiskan hari

liburnya untuk mengurusi barang-barang koleksinya.

Selain menatanya dengan hati-hati ke dalam album khusus, mereka juga bisa keasyikan berjam- jam mengukur, menimbang,

bahkan mencium si duit koleksi.

Banyak cerita, bagaimana para istri mereka cemburu lantaran sang suami lebih asyik mengurusi benda koleksi di hari libur.

Ngapain mereka sampai mengukur, menimbang bahkan menciumi koleksinya segala? Pengukuran dan penimbangan itu

untuk memastikan duit itu asli dan datanya sesuai dengan data pada katalog yang jadi panduan. Dan, untuk memastikan duit

itu belum dipotong pinggirannya (trimming).

Adapun kegiatan menciumi si doku untuk memastikan duit itu belum dibersihkan dengan zat kimia agar tampak kinclong.

Maklum, pas membeli, sering kali si kolektor enggak punya waktu dan kesempatan melakukan pengecekan sedetail itu.

Tak hanya makan waktu, kegemaran yang satu ini juga butuh modal. Banyak kolektor yang menanamkan duit miliaran

rupiah, bahkan tak segan menjual rumah, mobil, atau tanah warisan demi memperoleh duit langka incaran. “Saya pernah sampai menjual apartemen seharga Rp 600 juta,” ungkap Shofwan.

Kini, menurut kolektor yang sehari-hari bekerja sebagai Direktur Keuangan Patra Jasa itu, dari segi kuantitas boleh jadi

dirinyalah kolektor terbesar di Indonesia.

“Saya punya dua kamar berisi uang kuno semua. Yang mahalmahal saya masukin album, lainnya saya masukin boks saja,”

ujar Shofwan. Wah, kayak Paman Gober, dong!

Dari kolektor, lama-lama jadi kolekdol

Meski umumnya butuh modal besar, mengoleksi uang atau numismatika justru bisa mendatangkan keuntungan finansial

yang jauh lebih besar. “Ini adalah fun dan fund, hobi yang bisa mendatangkan duit,” cetus Puji, yang saat ini memiliki sekitar

satu ton koleksi uang logam kuno.

Numismatika memang bisa menjadi wahana investasi. Sebab, harganya cenderung terus naik. Bahkan, jika jeli memilih

barang yang benar-benar langka dan unik, kolektor bisa menangguk untuk puluhan, ratusan bahkan ribuan kali lipat.

Ambil contoh, “Lima tahun lalu, satu set uang seri Wayang langka harganya Rp 27 juta, kini paling murah sudah Rp 100 juta,”

ujar Henry, yang pernah mencetak rekor penjualan uang kertas seharga US$ 5.000 selembar.

Betul, tak semua kolektor mau menjual koleksinya. Seperti Brian misalnya. “Saya tak akan menjual uang koleksi saya,

berapa pun orang menawarnya,” tandas dia.

Namun, banyak pula kolektor yang demi melihat peluang untung yang besar itu akhirnya beralih dari kolektor menjadi

kolekdol. “Kolekdol itu kolektor sambil dodolan alias jualan,” ujar Shofwan.

Umumnya, para kolektor yang memiliki beberapa lembar uang dari jenis yang sama akan menjual sebagian lembaran duit itu.

Sisanya untuk dikoleksi sendiri.

Keuntungan yang mereka peroleh memang besar. Dalam beberapa tahun, bahkan beberapa bulan saja, harga duit kuno bisa

naik puluhan bahkan ratusan persen. “Saya pernah punya uang kuno Sumatra yang memberi saya keuntungan 500% dalam

sebulan,” kata Uno, yang jadi kolekdol setelah 2 tahun jadi kolektor murni.

Meski tak setinggi itu, menurut Yacob Edynata, dia sering mendapat untung Rp 5 juta-Rp 7,5 juta dari selembar uang kertas.

“Misalnya uang pecahan Rp 1.000 bergambar J.P. Coen, saya beli Rp 5 juta selembar, tak lama, ada yang mau beli Rp 12,5

juta. Kadang untung saya lebih kecil, tapi barang yang terjual lebih banyak,” ujar- nya. Keuntungan nan gemerincing inilah

yang membuat Yacob, yang sejatinya adalah pemilik showroom mobil bekas itu, beralih dari seorang kolektor menjadi

kolekdol. Bahkan kini, dia juga telah jadi dealer alias pedagang numismatika, meski tak jualan di toko.

Umur yang lebih tua tak selalu lebih mahal

Tertarik pula menjadi kolektor atau kolekdol? Kalau modal Anda tak besar, bukan masalah. “Punya modal Rp 10 miliar juga

habis, tapi Rp 1 juta juga sudah bisa mulai jadi numismatis,” ujar Uno.

Dengan modal terbatas, tentu Anda tak bisa langsung membeli koleksi yang mahal-mahal. Anda sebaiknya fokus. Misalnya,

mengkoleksi uang dengan seri tumbuhan atau hewan saja dulu. Anda pun harus sabar mengumpulkan koleksi itu dari tahun

ke tahun.

Hal terpenting dalam mengoleksi dan investasi numismatika adalah kejelian memilih barang. “Musuh utama kita adalah uang

palsu,” ujar Uno. Selain itu, Anda juga harus jeli memilih barang yang memang bernilai tinggi.

Nilai uang atau benda numismatika lainnya itu setidaknya ditentukan tiga hal. Pertama, tua dan langka. Makin tua memang

nilai uang umumnya akan semakin tinggi. Tapi, sering kali uang yang tahunnya lebih tua bisa jadi harganya lebih murah dari

yang tahunnya lebih muda. Sebab, ketersediaan atau populasi yang muda lebih sedikit. “Misalnya ada duit tahun 1945

harganya kini cuma Rp 10.000, tapi ada yang tahun 1957 harganya Rp 4 juta, itu karena yang tahun 1945 ditemukan dalam

jumlah cukup banyak,” ujar Yacob.

Kedua, nilai sejarah. Misalnya, duit daerah yang beredar di tahun 1945-1949. “Waktu itu zaman chaos, setiap daerah

mengeluarkan uangnya sendiri,” ujar Uno. Meski kala itu uangnya terbuat dari kertas buku tulis biasa, tanpa benang

pengaman, toh, karena nilai sejarah dan kelangkaannya, harga uang itu kini sangat tinggi.

Ambil contoh uang Sumatra Selatan tahun 1949 dengan nominal Rp 40, kini di ebay.com dilelang dengan harga dasar US$

175 selembar.

Contoh lain, uang tahun 1957 seri Banteng yang ditandatangani Syafruddin Prawiranegara yang kemudian memberontak.

“Baru sebulan beredar uang itu ditarik pemerintah, jadinya langka dan ada sejarahnya, hingga harganya kini mahal,” ujar L.

Kornel Kardewa, kolektor numismatik yang juga pengusaha pom bensin.

Ketiga, keunikan. Misalnya, uang yang salah cetak (misprint). Contoh lain, uang dengan nomor seri cantik. Contohnya, uang pecahan Rp 50.000 tahun 2005, dengan nomor seri UNC 888888, di ebay.com dilelang dengan harga dasar US$ 98,999

selembar.

Eit, jangan langsung sibuk meneliti nomor seri yang unik ini, ya, setiap kali dapat uang. Sebab, “Begitu dicetak, biasanya

orang-orang dalam bank sentral sudah mengambilnya lalu dijual ke penggemar,” ujar seorang sumber.

Uang uncut alias belum dipotong dan spesimen (contoh uang) juga bernilai tinggi. Sebab, hanya orang yang punya akses ke

bank yang bisa memilikinya.

Lalu, di mana kita bisa membeli lalu menjual kembali uang atau benda-benda numismatika itu? Kita bisa membeli atau

menjualnya ke pedagang uang yang ada di pasar. Di Jakarta misalnya, para pedagang itu ada di Pasarbaru dan Jatinegara.

Pilihan lain, jual beli bisa dilakukan di antara komunitas ini secara pribadi, lewat lelang atau lewat internet. “Awam mungkin

menganggapnya sulit. Tapi, kalau sudah bermain, nanti akan tahu sendiri, kok,” ujar Shofwan.

+++++

Menakar Keelokan Fisik

Harga benda numismatik juga sangat tergantung dari kondisi fisiknya. Semakin mulus duit, semakin tinggi harganya.

Masalahnya, penilaian fisik itu sering subyektif dan jadi perdebatan khususnya dalam transaksi via internet atau melalui

brosur lelang.

Untuk mengatasi hal itu, The International Bank Note Society (IBNS) telah membuat standardisasi penilaian (grading) uang

kertas, yang terdiri dari 9 tingkat, yakni:

1. Uncirculated (UNC)

Kondisi fisik sempurna, semua sudut tajam, tak ada cacat, permukaan bersih dan berkilau. Duit ini sejak keluar dari bank

langsung disimpan, jadi tidak dipakai.

2. Almost uncirculated (UC)

Mirip UNC, tapi ada sedikit bekas terpegang, sedikit noda atau lipatan kecil.

3. Extremely/extra fine (EF/XF)

Kertas masih kaku, permukaan berkilau, sudut sedikit membundar, maksimal ada tiga lipatan tipis, atau satu lipatan tajam.

4. Very fine (VF)

Duitnya sudah terpakai, tapi kertasnya masih kaku, sedikit kotor dan lipatan, namun tidak sobek.

5. Fine (F)

Duit sudah sering terpakai, ada lipatan dan berkeriput, tidak terlalu kotor, sedikit sobek, tapi tidak masuk ke dalam gambar,

ada lubang staples, warna masih jelas.

6. Very good (VG)

Sudah terpakai berkali-kali, kertasnya masih utuh tapi layu, ada lubang staples, sudut membundar, sobekan masuk hingga

gambar.

7. Good (G)

Ada cacat bekas lipatan hingga berlubang, lubang staples, karat, kotor, berubah warna, ada grafiti, sobek pada bagian

pinggir, ada bagian hilang karena sobek.

8. Fair (F)

Layu, rusak berat, kotor, bagian besar hilang karena sobek.

9. Poor (P)

Rusak parah, tercabik-cabik, bekas ditambal, lubang besar, kadang sudah dipotong pinggirnya agar terlihat mulus (trimming).

+++++

Beberapa uang langka yang diminati pasar saat ini

1. Uang kertas Hindia Belanda edisi Wayang, tahun 1939.

2. Oeang Republik Indonesia (ORI), tahun 1948 dengan pecahan Rp 75,Rp 600 dan pecahan Rp 100 bergambar tembakau.

3. Uang kertas pecahan Rp 500 seri Banteng tahun 1957, yang diteken olehSyafruddin Prawiranegara.

4. Uang Irian Barat pecahan Rp 100 bergambar Sukarno, keluaran 1960.

5. Uang kertas Hindia Belanda tahun 1890 bergambar Gubernur JenderalJan Peter Coen.

6. Beberapa uang koin daerah, seperti: koin Aceh, Bangka, dan Banten.

7. Koin Java rupee tahun 1800-an, zaman penjajahan Belanda dan Inggris.

Sumber: Riset KONTAN

www.kontan-online.com No. 44, Tahun XI, Minggu I Agustus 2007

~ oleh okah pada Mei 5, 2008.

14 Tanggapan to “Dari Sini Bermula….”

  1. aku ada koin voc th 1786 mau tak jual 5 jt. call 08122756909

  2. ok

  3. sy py koin emas abad 15, timah abad 15, perak abad 17, perunggu abad 18-19, etc.. ada yang berminat? 081314500603

  4. Selamat malam

    Saya mempunyai beberapa uang koin kuno, saat ini saya ingin menjual uang koin kuno saya berupa 1 keping uang koin 2 1/2 G tahun 1937 bergambar Wilhelmina dan 1 keping uang koin 1/10 G tahun 1930 bergambar tulisan arab dan jawa.

    Bila Anda berminat silahkan Anda kontak saya.

  5. Wuih…TOP bgt neh situsnya…ada yg koleksi uang2 unik..?!? A@nk ada 2lbr Rp.50rb gbr soeharto n WR.Supratman yg no serinya ada diatas kiri dan kanan !! Minat hub. 0878 6171 6878 djamin hanya ada satu d indonesia n bernilai tinggi sbg koleksi

  6. Udah lama saya cari situs seperti ini.Saya mau menawarkan 2 buah koin langka saya,yang satu taon 1849 ada gambar Willem II Koning dan yang satu taon 1853 gambarnya Willem III Koning.Keduanya mempunyai nominal 2.5 Golden.
    Apabila ada yang berminat hub. 0815 5564 6188

  7. saya lagi nyari uang kertas kuno seri wayang min pecahan 25 G & seri coen dicari semua pecahan. kondisi minimal F/FV. Bagi yang ingin menjual,hub saya di 085764166654 atau ke april_sartika@yahoo.co.id

  8. untuk kolektor koin saya mau jual:
    1. koin VOC JAVA yang salah cetak yaitu VOC AVA di tengah koin
    2.koin perak cap ular dari majapahit berat 5 gram
    kedua koin akan saya jual dengan harga nego.
    penawaran bisa lewat sms ke 085729447237

  9. saya juga mau menjualkan :
    koin 3 gulden tahun 1820 1 keping harga 8jt nego
    koin 2.5 gulden tahun 1898 2 keping harga 10jt nego
    koin 2.5 gulden tahun 1840 1 keping harga 5jt nego
    harga total 23jt nego. silahkan kirim penawaran ke 085729447237

  10. numpang jualan koin 1/4 gulden tahun 1898,1910-1919 kondisi vf-xf
    semua ada 16 keping, minat sms ke 085729447237

  11. saya memiliki beberapa uang kuno,diantaranya 2 biji uang logam 1/10 G tahun 1858, 1 biji uang logam 1/10 G tahun 1920, uang logam 1/4 G th 1930, uang logam 1/4 sen tahun 1945, puluhan uang logam 5 sen (uang berlubang tengah) berbagai tahun, uang kertas 100 rupiah gambar diponegoro tahun 1952, 5 lembar uang kertas 5 rupiah seri bunda tahun 1959, uang kertas 50 sen tahun 1964, uang kertas 500 rupiah tahun 1988, uang kertas 10 rupiah gambar diponegoro tahun 1968, uang kertas 5 rupiah gambar monyet tanpa tahun, uang kertas 100 rupiah gambar diponegoro tahun 1952, uang kertas 50 rupiah gambar wayang tahun 1952, uang kertas 10 rupiah tahun 1952.
    Bagi yang berminat,hubungi 6285742012964 atau denisdaiz@yahoo.co.id

  12. saya punya uang asing lama dari negara yugoslavia dengan pecahan 500milyar dinar dan dari angola dengan pecahan 500ribu kwanza.kalo berminat boleh hub. 087877291683

  13. saya ada 1 keping uang logam / koin th 1840. saya berniat ingin menjual nya dengan harga yang pantas. mohon bantuannya agar dapat terjual dengan harga yang pantas. saya dapat dihubungi di no 082111120011. trims

  14. saya ada duit gobang 1945 ,,,,
    kalo ada yang berminat hub saya …
    di talian 081991504377….
    cukup sms aja ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: